Ditempat yang stategis seperti di depan mall, masjid, gereja, terminal bus, terminal kereta api dan tempat-tempat strategis lainnya, para pengemis, gelandangan dan anak jalanan tanpa mengenal batas usia, terlihat mangkal. Apakah ini merupakan sebuah jati diri bangsa? Apakah keberadaan mereka ini sebuah fenomena atau, benarkah keberadaan mereka merupakan bentuk nyata dari sebuah rekayasa atas kepentingan pihak tertentu? Lalu, apa yang bisa diperbuat agar kondisi yang ada tidak semakin bertambah parah?

Di Jakarta, menurut Kepala Dinas Pembinaan Mental dan Kesejahteraan Sosial (Bintalkesos)  Jakarta Budihardjo, selama Ramadan ini sedikitnya 10.000 gepeng akan menyerbu Ibu Kota. Bayangkan 10.000 orang akan ada disekitar kita,memafaatkan momen ramadhan tahun ini. Bagaimana cara mencegah kedatangan mereka ke Jakarta? Tidak bisa. Buktinya saat ini mereka telah benar-benar ‘membanjiri’ kota jakarta dan sekitarnya.

Hampir 80 persen gepeng berasal dari luar Jakarta. Tercatat sedikitnya 53 titik rawan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) di Ibu Kota. Satgas penertiban ini akan menyisir 53 titik rawan PMKS di lima wilayah, di antaranya di Cilandak, Tomang, Harmoni, dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Begitu juga daerah Kemang, Jakarta Selatan, yang selalu dipenuhi manusia-manusia gerobak dari luar Ibu Kota, seperti Indramayu dan Tegal. Bila aktivitas mereka tidak segera ditertibkan, saya yakin kita takkan penah mampu mengembalikan jati diri bangsa.

Sekalipun sudah muncul fatwa dari MUI Sumenep, Madura, Jawa Timur, yang telah mengeluarkan fatwa haram mengemis. Dan fatwa inipun akan disetujui oleh MUI Pusat yang kini diketuai oleh bapak Umar Shihab, namun mereka terus saja berbondong-bondong datang ke Ibukota. Kalau mengemis saja sudah diharamkan apalagi merampok yach. Sudah pasti ini jelas melanggar hukum di negeri ini.

Wahai seluruh warga negeri…termasuk para pengemis, gelandangan, anak jalanan, pengamen, perampok, mari kita bangun masyarakat yang kreatif. Masyarakat yang mampu berbicara banyak ditingkat dunia. Bukan masyarakat bermental pengemis seperti mereka yang selalu menyandarkan hidup kepada belas kasih orang lain, bukan pula masyarakat yang gemar melakukan kekerasan demi mencapai sebuah tujuan seperti para perampok itu. Dengan begitu, kita akan mampu mengembalikan kejayaan bangsa kita, menggali segenap potensi diri yang ada dan mengangkat jati diri bangsa kita dan pada akhirnya kita akan menjadi sebuah bangsa yang bermartabat, yang punya jati diri. Itu adalah tugas kita, generasi muda, penerus cita-cita pahlawan bangsa kita. We are the next generation. Mari kita memulai mengembalikan jati diri bangsa

SDN Grogol 03 Pagi Jakarta Barat

SDN Grogol 03 Pagi Jakarta Barat

Pemerintah Derah Khusus Ibukota Jakarta
SDN Grogol 03 Pagi
Jl. Dr. Semeru Raya Gang VII Grogol Jakarta Barat Telp. 021-56964572

VISI : Oke dalam prestasi, bijak dalam bersikap dan berakhlak terpuji

MISI :
1. Meningkatkan profesionalitas guru
2. Menanamkan keyakinan / aqidah melalui pengamalan ajaran agama
3. Mengembangkan pembelajaran siswa secara PAKEM
4. Mengembangkan pengetahuan dibidang IPTEK, bahasa, olahraga dan seni sesuai dengan bakat minat, dan potensi siswa
5. Memupuk kemandirian siswa melalui kegiatan pengembangan diri

Keterangan foto sdn grogol 03 pagi klik disini

SDN Gondangdia 05 Pagi Jakarta Pusat

SDN Gondangdia 05 Pagi Jakarta Pusat

Pemerintah Derah Khusus Ibukota Jakarta
SDN Gondangdia 05 pagi
Jl. Probolinggo No. 20 Jakarta Pusat 10350, Telp. 021-3926426

VISI :
Terwujudnya pendidikan yang bermutu berdasarkan iman dan taqwa

MISI :
1. memberikan pelayanan pendidikan yang maksimal dan menyenangkan
2. Meningkatkan kedisiplinan, ketertiban serta berbudi pekerti luhur
3.Mewujudkan peran serta sekolah dan masyarakat
4. Menciptkan kondisi lingkungan sekolah yang bersih, sehat, nyaman dan asri

Keterangan foto galeri sdn gondangdia 05 pagi klik disini

Bangsa Indonesia, siapa menyangsikan bahwa kita adalah Bangsa yang Besar. Karena sesuatu dan lain hal, mungkin keadaan sekarang sedang tidak nyaman dalam Kebesarannya, bermacam-macam rongrongan sedang menimpa, Ibu Pertiwi menangis, Ayah Angkasa terpekur.
Bangsa yang kaya raya, yang menimbulkan banyak keirian bagi bangsa-bangsa lain. Dengan berbagai cara mereka mencuri, merampas, menjajah dan dengan segala akal cara. Mencuri adalah jalan termudah buat yang tidak memiliki, mencuri bangsa pun, mengapa tidak untuk negara yang memang sebenarnya tidak punya.
Mencemooh dan melecehkan bangsa yang besar ini. Hmmm… Harusnya mereka belajar dari sejarah. Sejarah tak pernah berbohong dan bisa saja terulang dan terulang.
Siapa yang menyangsikan kita Bangsa Besar yang penuh dengan manusia-manusia heroik, insan-insan patriotik dengan daya juang tinggi. Dan bukan negara yang mengandalkan “pemberian kemerdekaan” dari penjajahnya. Tak bisa disangkal, kita adalah Bangsa Besar dari Jaman Kerajaan-kerajaan sampai sekarang. Darah Kepahlawanan menurun dari generasi ke generasi. Lihat saja Majapahit dengan Mahapatih Gajah Mada nya, serta Sriwijaya yang megah di jamannya. Seberapa luas kerjaan mereka dulu?
Kekuasaan Kerajaan Majapahit
Kekuasaan Kerajaan Sriwijaya


Apa yang anda lihat dari Peta Kerajaan di atas? Jelas sekali bukan, negara “saudara serumpun dan seiman” (ufft…)  yang merasa sangat lebih dari Bangsa Besar ini “cuma menjadi bagian” dari sebuah kerajaan yang jauh lebih besar ini. Dan sejarah bisa saja terulang. He2x.. jadi kasihan.
Jangankan untuk menciptakan tarian indah dan budaya penuh daya seni tinggi, membuat lagu untuk negaranya sendiri saja masih “mencuri” (diduga) dari lagu ciptaan anak negeri ini (Lagu Terang Bulan). Sisi pandang saya dan saya tulis besar-besar :
KASIHAN BANGET !!!

Ikut mensukseskan program pertamina dalam seo contest kerja keras adalah energi kita.

Bangsa Indonesia, siapa menyangsikan bahwa kita adalah Bangsa yang Besar. Karena sesuatu dan lain hal, mungkin keadaan sekarang sedang tidak nyaman dalam Kebesarannya, bermacam-macam rongrongan sedang menimpa, Ibu Pertiwi menangis, Ayah Angkasa terpekur.

Bangsa yang kaya raya, yang menimbulkan banyak keirian bagi bangsa-bangsa lain. Dengan berbagai cara mereka mencuri, merampas, menjajah dan dengan segala akal cara. Mencuri adalah jalan termudah buat yang tidak memiliki, mencuri bangsa pun, mengapa tidak untuk negara yang memang sebenarnya tidak punya.
Mencemooh dan melecehkan bangsa yang besar ini. Hmmm… Harusnya mereka belajar dari sejarah. Sejarah tak pernah berbohong dan bisa saja terulang dan terulang.
Siapa yang menyangsikan kita Bangsa Besar yang penuh dengan manusia-manusia heroik, insan-insan patriotik dengan daya juang tinggi. Dan bukan negara yang mengandalkan “pemberian kemerdekaan” dari penjajahnya. Tak bisa disangkal, kita adalah Bangsa Besar dari Jaman Kerajaan-kerajaan sampai sekarang. Darah Kepahlawanan menurun dari generasi ke generasi. Lihat saja Majapahit dengan Mahapatih Gajah Mada nya, serta Sriwijaya yang megah di jamannya. Seberapa luas kerjaan mereka dulu?
Apa yang anda lihat dari Peta Kerajaan di atas? Jelas sekali bukan, negara “saudara serumpun dan seiman” (ufft…)  yang merasa sangat lebih dari Bangsa Besar ini “cuma menjadi bagian” dari sebuah kerajaan yang jauh lebih besar ini. Dan sejarah bisa saja terulang. He2x.. jadi kasihan.

Jangankan untuk menciptakan tarian indah dan budaya penuh daya seni tinggi, membuat lagu untuk negaranya sendiri saja masih “mencuri” (diduga) dari lagu ciptaan anak negeri ini (Lagu Terang Bulan). Sisi pandang saya dan saya tulis besar-besar :
KASIHAN BANGET !!!
Catatan : tidak perlu mengancam yang nggak-nggak, nanti gemeter.

Ikut mensukseskan program pertamina dalam seo contest kerja keras adalah energi kita.

Next Page →